Tugas Sesi 3 Health System Matters


HEALTHCARE IN LOW-RESOURCES SETTINGS TIDAK SELALU EFEKTIF



Belajar dari Implementasi Program PERMATA Provinsi NTT Tahun 2015



PERMATA merupakan program penguatan system kesehatan yang dikembangkan oleh lembaga kemitraan Pemerintah Australia dengan Pemerintah Daerah Provinsi NTT yang bertujuan mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir serta masalah stunting. Keunggulan dari desain healthcare in low resources settings ini adalah menggunakan pendekatan complementary demand side yang berfokus pada aspek gender dan factor social budaya. System ini diharapkan mampu mendorong warga miskin untuk mengakses pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan komprehensif, paket pelayanan peningkatan gizi dan keluarga berencana, berfokus pada perubahan perilaku baik individu maupun kelompok masyarakat, serta mengutamakan kesehatan selama kehamilan, proses kelahiran yang aman dan selamat bagi ibu dan bayi baru lahir (AIPMNH, 2010).



Sistem Healthcare In Low-Resources Settings : Tidak Selalu Efektif !!

Sistem Healthcare In Low-Resources Settings (SHIL-RS) merupakan model pengembangan penguatan system kesehatan bagi daerah dengan keterbatasan sumber daya melalui mekanisme analisis, sintesis dan aksi yang berkelanjutan dengan mengkombinasikan unsur teoritikal, bukti empiris dan praktikal. Hageru et all (2015) mengungkapkan bahwa system (SHIL-RS) menekankan aspek integrasi seluruh aspek baik itu lingkungan, perencanaan, implementasi dan evaluasi dalam pemecahan masalah bidang kesehatan.

Social Development Analysis yang dilakukan tahun 2015 menemukan beberapa kendala dalam implementasi program PERMATA di NTT. Kendala – kendala tersebut dibagi dalam 4 sumber utama yaitu 1). Home based barriers meliputi : otoritas wanita dalam pengambilan keputusan; permission seeking; hambatan terhadap mobilisasi kaum wanita, anggapan bahwa pelayanan kesehatan belum pasti baik, minim informasi berkaitan dengan perilaku sehat selama kehamilan, adanya stigma terhadap kau wanita yang hamil di luar nikah. 2). Community based barriers mencakup seremonial adat lebih diutamakan dari pada kesehatan ibu , kemiskinan, kepercayaan tradisonal dan praktik dukun yang masih menjadi primadona bagi masyarakat. 3). Journey based barriers mencakup jalur transportasi yang buruk, waktu tempuh ke fasilitas pelkes yang sangat lama dan 4). Service related barriers mencakup minimnya sumberdaya kesehatan sehingga tenaga medis merangkap admin sekaligus klinisi, mis alokasi dalam pembelajaan kesehatan; pelayanan posyandu yang masih belum bermutu, kekurangan persediaan obat-obatan; jam buka fasilitas pelkes yang tidak jelas khususnya di daerah pedalaman).



Health System Matters :"Weak of Intersectoral Collaboration & Capacity Of Integration"



Sistem Kesehatan daerah (District Health System) dengan model Health in Low-Resources Settings seyogiayanya berfokus pada kesehatan komunitas, kerja sama yang baik antar Puskesmas (primary health care (PHC) di daerah serta pemberian pelayanan kesehatan lanjutan yang optimal bagi masyarakat oleh rumah sakit daerah (Asante et all, 2015). Di Indonesia, implementasi model system Health in Low-Resources Settings pada daerah-daerah dengan kategori daerah bermasalah kesehatan sering tidak selalu efektif dalam mencapai outcome yang diharapkan. Kondisi inilah yang juga terjadi dalam implementasi program PERMATA yang merupakan program berbasis Sistem Health in Low-Resources Settings di NTT pada tahun 2015 yang dinilai belum efektif (AusAID, 2015).

Lemahnya Kerjasama Lintas Sektor dan buruknya capacity of integration dari pemerintah daerah disinyalir merupakan permasalahan mendasar dalam system tersebut. Annual report AusAID tahun 2015 di Provinsi NTT menunjukkan bahwa desain system kesehatan ini tidak memberikan ruang untuk mempersatukan berbagai pendekatan untuk mendekatkan akses masyarakat miskin guna mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang lebih baik sehingga dalam implementasinya terjadi "tension" antara lembaga kemitraan dengan pemerintah daerah berkaitan dengan dana dan integrasi program KB ke dalam system tersebut. Implikasinya adalah system ini lemah dalam mewadahi kerjasama lintas sector sebab masalah kematian ibu dan bayi baru lahir di NTT adalah masalah yang kompleks dan tidak bisa sebuah system yang diterapkan berjalan sendiri atau terfragmentasi (Dinkes NTT, 2013).

Selain itu blue print desain system kesehatan ini sangat memperhatikan aspek Repackaging Evidence For Integration yang mencakup unsur ketepatan audiens (sasaran), tujuan yang dibuat sangat instrumental, komunikasi produk atau jasa layanan yang diberikan sangat diutamakan dan metode yang digunakan sangat aplikatif. Sistem yang seperti ini tentunya membutuhkan manager dan leadersip yang kompeten sebab peran seorang pemimpin daerah dalam system ini tidak hanya sebagai motivator masyarakat tetapi harus memiliki capacity for integration (Hageru et all, 2015).

Dalam proses implementasi, system Healthcare in Low-Resources program PERMATA tahun 2015 dinilai belum bisa melahirkan "key leader" yang betul – betul memiliki kapasitas mumpuni untuk menganalisa keterkaitan antar masalah kesehatan yang terjadi, dan seorang key leader yang mampu melakukan scanning the environment for integration (Haregu et all, 2015). Hasil evaluasi AusAID menunjukkan bahwa weaknes of local government merupakan penyebab utama tidak berjalannya proses capacity of integration sehingga model system yang diimplementasikan masih sebatas pada tatanan linear proses bukan proses intergrasi yang spiral.

Saran : Belum maksimalnya kerja sebuah system memberi pejelasan bahwa sebagus apapun system yang dibangun tanpa ada kerja sama yang baik antara semua pihak system tersebut tetaplah sebuah system yang mati. Faktor organisasi dan konteks daerah merupakan aspek penting yang turut memberi andil dalam implementasi sebuah system pelayanan. Sistem digerakkan oleh manusia (manager dan leadership) oleh sebab itu sebelum menggerakan sebuah system maka system tersebut harus dipelajari dan dimengerti terlebih dahulu.  ------- Peryn_KMPK --------

Referensi

Asante et all. 2015. Do Dictrct Health systems Perform Differently Because of Their Manager? Preliminary Insight From Indonesia. Journal : Healthcare In Low-Resources Setting, 2015 : Vol. 3: 4471.

AusAID. 2015. Annual Report Social Development Analysis To Suport The Design Of A Future Maternal and Newborn Health Program In Indonesia ; PERMATA.

Hageru et all. 2015. A Tool To Guide The Procss of Integrating Health System Responses To Public Health Program. Journal : Healthcare In Low-Resources Setting, 2015 : Vol. 3: 3260.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar